January 19, 2009

What is Strategic Thinking?

By: 070610289

Abstract

This paper describes about the definition, case study about the strategic thinking and Liedtka Model of the Elements of Strategic Thinking. Strategic thinking is a learned skill. It always involves change or transformation. In daily life, beside the business and military field, the best thing we can gain while thinking strategically is it makes you eliminate the trivial parts and transform it into the best ‘what-you-need’ benefit. In the simple words, strategic thinking means any thinking that leads to action in line with our goals. Therefore any thinking that not in line with our goals, is not a strategic thinking.

Keywords: strategy, strategic thinking, objectives, Liedtka’s Element of Strategic Thinking.

A. Pendahuluan

Dalam beberapa hal penting, kita tidak akan pernah lepas dari strategi. Baik strategi dalam kehidupan sehari-hari yang secara sadar diimplementasikan untuk kepentingan diri sendiri ataupun dampak yang kita rasakan atas strategi yang diterapkan individu lain yang dapat mempengaruhi kehidupan kita. Ataupun strategi lain yang berupa kebijakan-kebijakan para penguasa atau pemimpin negara, yang secara langsung maupun tidak langsung akan membawa dampak bagi kehidupan kita.

Penerapan strategi ini tidak terlepas dari fakta bahwa selain sebagai makhluk sosial, manusia juga adalah makhluk politik yang secara sadar akan terus bersaing dan berusaha agar tetap bertahan hidup. Dan untuk tetap bertahan, strategi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Mengutip pemikiran E.H. Carr dalam The Twenty Years’ Crisis[1], bahwa ada konflik kepentingan yang dalam baik konflik tersebut terjadi antar negara maupun antar masyarakat. Bahwa kekuasaan dan kelebihan tidak bersifat simetris. Dan ‘mereka yang tidak memiliki kekuasaan’, ‘mereka yang tidak diperhitungkan’, ‘mereka yang tidak punya’ akan berjuang mengubah situasi tersebut. Persaingan seperti tentunya membutuhkan strategi matang dalam usaha pencapaian tujuan tersebut.

Dan dalam makalah ini, hal yang menjadi fokus utamanya adalah pemikiran strategis (strategic thinking). Makalah ini memiliki empat bagian. Pada bagian yang pertama akan dipaparkan terlebih dahulu sebuah studi kasus yang dapat menyederhanakan pemahaman mengenai strategi, strategis, dan pemikiran strategis. Dan definisi dari para teoris akan dipaparkan setelahnya. Selain itu akan dipaparkan pula aktivitas-aktivitas strategis menurut Kenichi Ohmae yang terdiri dari pemikiran strategis, manajemen strategis dan perencanaan strategis.

Dalam bagian kedua akan dipaparkan tentang elemen-elemen pemikiran strategis dengan menggunakan pemikiran J.M. Liedtka yang dikenal dengan Liedtka Model of The Elements of Strategic Thinking. Sedangkan di bagian ketiga berisi tentang kesimpulan yang akan mempermudah dan memperkuat pemikiran strategis yang telah dijelaskan sebelumnya.

B. Pemikiran Strategis

ALDI dan LIDL Supermarket di Tengah Credit Crunch

Krisis keuangan global memang menjadi petaka di penghujung tahun 2008. Kelesuan ekonomi membuat jutaan orang di seluruh dunia mengalami pemutusan hubungan kerja atau masalah keuangan akut, termasuk juga para pekerja di Inggris. Harga-harga kebutuhan pokok melambung sedangkan penghasilan tetap atau bahkan menurun. Kondisi seperti inilah yang dilihat sebagai sebuah kesempatan dan dimanfaatkan dengan baik oleh supermarket kecil di Inggris seperti ALDI dan LIDL.

ALDI dan LIDL adalah salah satu jaringan supermarket asal Jerman yang ada di Inggris. Sebelum krisis keuangan global, masyarakat Inggris yang terkenal sangat menjaga gengsinya, hanya mau berbelanja kebutuhan hidup sehari-hari di supermarket yang sesuai dengan tingkat kelas mereka. Para miliuner akan berbelanja di Harrods Food Hall, para eksekutif di Waitrose, kelas menengah akan berbelanja di Sainsbury dan TESCO dan masyarakat menengah ke bawah akan berbelanja di ASDA atau Morrison. Sedangkan ALDI dan LIDL dipandang hanya untuk kalangan paling bawah atau poor people. Bahkan sebagian besar masyarakat Inggris memberikan label poor food for poor people untuk supermarket-supermarket dari Jerman ini. Ataupun cemoohan seperti tidak akan memegang daging, ikan atau keju dari kedua supermarket tersebut, meskipun dengan tongkat panjang (bargepole). [2]

Keputusan untuk berhemat di sebagian besar masyarakat Inggris akibat krisis global tidak disia-siakan oleh supermarket tersebut. Tujuan awalnya adalah menarik pelanggan dengan mengubah stereotype masyarakat terhadap supermarket mereka terlebih dahulu. Caranya adalah dengan melakukan promosi besar-besaran. Promosi merupakan hal yang lazim bagi suatu perusahaan untuk memperkenalkan dan menjual komoditas perusahaan. Yang membedakan adalah ALDI dan LIDL tahu bagaimana cara memanfaatkan kesempatan yang ada, yang timbul akibat credit crunch, istilah krisis keuangan global yang digunakan masyarakat Inggris, tersebut dengan melakukan promosi yang tepat.

Dengan pemikiran strategis, supermarket tersebut tidak mengubah image supermarket mereka dengan berusaha mengubah tampilan bangunan, memperindah atau memperbesar ukuran supermarket hingga mampu menyaingi supermarket besar lainnya, yang tentunya akan menghabiskan biaya yang besar. Namun cukup dengan memanfaatkan kondisi yang timbul akibat credit crunch.

Salah satu caranya adalah dengan membuka kedok supermarket besar di Inggris yang mengambil margin keuntungan yang lebih tinggi daripada seharusnya. Untuk merealisasikannya, supermarket tersebut menempelkan poster di pintu masuk supermarket yang isinya membandingkan harga sekeranjang produk di supermarketnya dengan supermarket lain seperti TESCO, ASDA, Sainsbury dan Morrison yang memang jauh lebih mahal untuk produk yang sama. Dan promosi ini turut ‘berjasa’ menyadarkan masyarakat Inggris akan keuntungan yang diambil supermarket besar yang memanfaatkan psikologis gengsi mereka.

Atau promosi lain, seperti menempelkkan poster “Ubah tempat belanjamu, bukan gaya hidupmu.”

Promosi ini berhasil. Tujuan ALDI dan LIDL tercapai. Masyarakat Inggris tidak segan lagi berbelanja di supermarketnya. Penjualan ALDI naik 30% dan LIDL terpilih sebagai supermarket terbaik dengan harga termurah versi majalah Which.[3]

Sebagian orang bisa jadi menganggap kesuksesan yang diperoleh supermarket asal Jerman ini hanyalah sebuah keberuntungan di tengah bencana krisis keuangan global. Namun keberuntungan seperti ini jika tidak dilandasi oleh pemikiran yang strategis hanya akan menjadi sebuah keberuntungan sambil lalu yang tidak akan membawa manfaat jangka panjang. Karena pada dasarnya kesuksesan tidak sepenuhnya ditentukan dari adanya keberuntungan atau kesempatan besar namun pada tujuan atau target strategis yang secara sistematis dijalankan. Dan strategi digunakan untuk mengubah keberuntungan yang ada tersebut menjadi kinerja terbaik untuk mencapai tujuan.

a) Definisi Pemikiran Strategis

“In strategy everything is simple, but not that account very easy.” (Clausewitz)

Seperti yang dikatakan Clausewitz, segala hal dalam strategi adalah sederhana tapi tentu tidak semudah itu. Kesederhanaan tersebut dimaksudkan agar strategi tersebut mudah untuk diingat dan diterapkan. Masalah yang dihadapi bisa jadi sangat begitu kompleks namun strategi yang dirancang untuk memecahkan masalah tersebut haruslah jelas dan sederhana. Kompleksitas hanya akan menimbulkan kerancuan dan ketidakpastian.

Dengan maksud menghindari kerancuan tersebut, sebelum melangkah ke penjabaran pemikiran strategis akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai penegasan signifikan antara pemikiran strategis dengan perencanaan strategis.

b) Definisi dari Para Pembuat Teori

Henry Mintzberg[4] salah satu pelopor dalam manajemen strategis, dalam The Rise and Fall of Strategic Planning, dengan jelas menekankan perbedaan antara pemikiran strategis dengan perencanaan strategis. Mintzberg menyebutkan bahwa perencanaan strategis adalah rangkaian rencana sistematis strategis dimana sebuah rencana aksi dikembangkan. Sedangkan pemikiran strategis adalah proses menyatukan intuisi dan kreativitas yang hasil akhirnya adalah sebuah perspektif terintegrasi mengenai perusahaan.

Ralph Stacey[5] dalam Managing The Unknowable mendefinisikan pemikiran strategis sebagai pengunaan analogi – analogi dan persamaan kualitatif untuk mengembangkan ide - ide baru yang kreatif dan menyusun tindakan/aksi yang berdasar pada pengetahuan baru.

Sedangkan Raimond[6] mendefinisikan pemikiran strategis dengan mendefinisikan strategi terlebih dahulu kemudian membaginya ke dalam dua mode, yaitu strategi sebagai mesin intelegen, seperti data-driven, pendekatan proses informasi dan strategi sebagai imajinasi kreatif. Dalam hal ini, yang dimaksudkan Raimond sebagai sebuah pemikiran strategis adalah mode yang kedua, strategi sebagai imajinasi kreatif. Sedangkan strategi sebagai mesin intelegen adalah pendefinisian Raimond untuk perencanaan strategis. Secara singkat, Raimond mendikotomi pemikiran strategis sebagai keturunan strategi ke arah kreatif sedangkan perencanaan strategis menempati level analitis.

Center for Applied Research[7] menyebutkan bahwa pemikiran startegis berfokus pada pencarian dan pengembangan kesempatan unik untuk menciptakan nilai yang memungkinkan dialog proaktif dan kreatif antara orang yang dapat mempengaruhi arah perusahaan.

Dengan menyimpulkan pemikiran para pembuat teori di atas, terlihat bahwa perbedaan antara pemikiran strategis dan rencana strategis terletak pada proses bidangnya. Pemikiran strategis lebih kepada proses kreatif sedangkan perencanaan strategis lebih kepada proses analitis yang sistematis. Namun dalam proses tersebut, keduanya bergerak untuk mencapai tujuan walaupun ditempatkan di spektrum yang berbeda.

c) Aktivitas-aktivitas Strategis menurut Kenichi Ohmae

Kenichi Ohmae dalam Introducing Strategic Management[8] mengelompokkan pemikiran strategis, manajemen strategis dan perencanaan strategis ke dalam sebuah term yang disebut strategic activities (aktivitas-aktivitas strategis).

Pemikiran Strategis (Strategic Thinking)

Bagi Ohmae, beberapa pemikiran strategis bermula dari munculnya ide-ide strategis yang sangat sederhana. Ide ini kemudian dapat memperjelas hal-hal khusus apa yang sangat kita butuhkan untuk mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan suatu masalah.

Ohmae menyebutkan bahwa pemikiran strategis tidak harus selalu terjadi di kalangan para pebisnis atau kalangan petinggi militer, walaupun strategi pada awalnya muncul di area militer. Pemikiran strategis juga dapat muncul di kehidupan sosial, estetika dan bidang lainnya seperti perlombaan olahraga.

Walaupun berdasar pada pemikiran bahwa strategi dapat dijumpai di mana saja dan dilakukan oleh siapa saja, namun tidak semua orang yang terlibat dalam pemikiran strategis sadar bahwa tindakan - tindakan mereka tersebut adalah hasil dari sebuah pemikiran strategis. Karenanya, Ohmae mendefinisikan pemikiran strategis menjadi dua, yaitu pemikiran strategis eksplisit dan pemikiran strategis implisit.

Pemikiran startegis yang implisit seringkali berasal dari aktivitas yang jauh dari ranah bisnis. Pemikiran strategis implisit ini lebih banyak berasal dari sektor kelangsungan hidup manusia dan kesenangan atau kepuasan manusia. Sedangkan pemikiran strategis eksplisit adalah kebalikan dari pemikiran strategis implisit dimana strategi tersebut dijalankan secara sengaja dan dengan kesadaran dan pemahaman penuh mengenai pemikiran tersebut.

Manajemen Strategis (Strategic Management)

Manajemen strategis diartikan setiap aksi manajemen yang diambil untuk merealisasikan sebuah strategi. Namun para strategist dalam area bisnis tidak hanya terlibat dalam pemikiran strategis saja. Mereka tidak membatasi diri hanya untuk memikirkan sebuah strategi, mereka bertindak untuk melanjutkan visi mereka. Visi di sini diartikan sebagai arah aksi yang harus mereka ambil demi tercapainya tujuan organisasi. Manajemen strategis kemudian menerjemahkan visi strategis ke dalam aksi strategis. Seluruh aksi diatur berdasarkan pedoman perealisasian visi.

Perencanaan Strategis (Strategic Planning)

Di satu sisi, terkadang strategi dan perencanaan dipandang sebagai dua hal yang sama. Sedangkan di sisi lain, dianggap sebagai dua hal yang berbeda. Strategi meletakkan sasaran atau tujuan, sedangkan perencanaan menunjukkan bagaimana cara untuk mencapai sasaran atau tujuan tersebut. Cara yang paling jelas dalam membedakan keduanya adalah dengan memandang strategi, tidak hanya sebagai sebuah rencana namun sebagai daftar manifestasi secara keseluruhan, yang di dalamnya mencakup pola, perspektif, posisi dan taktik. Sedangkan perencanaan adalah sesuatu hal yang anilitis. Perencanaan berperan dalam mengubah segala hal yang ada menjadi formal dan sistematik. Dalam prosesnya, perencanaan membutuhkan data - data terperinci yang relevan untuk pencapaian target - target strategis.

Dalam perencanaan, sebagian berhubungan dengan target, restrukturisasi perusahaan dan membentuk kembali lingkungan kerjanya. Dan sebagian lagi berhubungan dengan bagaimana menggunakan secara efektif kemampuan dan peralatan yang telah dimiliki perusahaan tersebut untuk kepentingan pencapaian tujuan.

Secara umum, perencanaan strategis juga dapat diartikan sebagai penerjemahan rencana jangka pendek menjadi rencana operasional dan administratif jangka pendek.

d) Hubungan dan Perbedaan

Aktivitas - aktivitas strategis ini kemudian dipahami sebagai tiga langkah terpisah dalam kesatuan proses sistematik pembuatan strategi.

Pemikiran strategis berisi tentang pembangunan visi, yang mencakup proses pendefinisian dan pencapaian tujuan dalam keadaan masa depan yang kompleks dan tidak pasti. Pemikiran strategis berhubungan dengan proses memikirkan kembali masa depan sedemikian rupa sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara maksimal.

Sedangkan manajemen strategis berhubungan dengan menyusun kembali beberapa bagian dalam masa depan yang diinginkan. Pemikrian yang strategis hanya akan menjadi hal yang sia-sia jika tidak melakukan manajemen strategis ini. Karenanya tahap ini penting untuk dilaksanakan.

Aktivitas strategis yang ketiga adalah perencanaan strategis. Perencanaan strategis adalah langkah lanjut dari pembentukan masa depan yang sebelumnya telah disusun ulang dalam manajemen strategis. Tahap ini adalah tahap lanjut yang akan memproses data-data, yang seringkali masih berupa data awal yang terpisah-pisah dan belum lengkap, dari tahap sebelumnya. Dalam tahap inilah, hasil kerja dari dua tahap sebelumnya diterjemahkan ke dalam bentuk rencana tertulis yang formal dan koheren. Juga ke dalam tindakan-tindakan yang akan merealisasikan rencana-rencana yang telah disusun sebelumnya.

C. Atribut Strategic Thinking

Dalam bukunya, Strategic Thinking: Can it be Taught?, J.M. Liedtka[9] menggunakan lima elemen utama dalam pemikiran strategis. Dengan model ini, pemikiran strategis dedifinisikan sebagai sebuah cara berpikir khusus, dengan karakteristik yang sangat terperinci dan jelas. Lima atribut tersebut adalah:

1. Sistem Perspektif Holistik

Sistem perspektif holistik ini diartikan dengan merujuk bahwa seorang pemikir strategis harus mempunyai sistem mental dan pikir nilai kreasi yang lengkap, mulai dari awal hingga akhir. Juga memahami saling ketergantungan dalam rantai pikir tersebut. Pemikiran strategis lebih mengarah kepada sebuah orientasi secara keseluruhan daripada hanya fokus pada satu bagian tertentu saja.

Terdapat dua perspektif dalam sistem ini yaitu, perspektif vertikal dan horisontal. Dalam perspektif vertikal, pemikir strategis melihat pertalian dalam sistem dari berbagai perspektif yang ada dan memahami hubungan di antara lembaga-lembaga yang terlibat di dalamnya dari level fungsional strategis ke konteks eksternal, dan juga pilihan pribadi sehari-hari yang mereka buat. Sedangkan dari perspektif horisontal, mereka juga harus memahami hubungan di luar departemen dan fungsi, dan memahami hubungan antara pemasok dan pembeli.

Teknik-teknik yang mungkin dapat diterapkan untuk membantu atribut pertama ini antara lain: pemetaan kelebihan-kelebihan yang diniliki, pemetaan situasi dan kondisi, pemetaan selera pasar, sistem analisis nilai, dan konferensi yang berfokus pada pembangunan masa depan.

2. Berfokus pada tujuan

Pemikiran strategis memiliki arah dan tujuan yang jelas. Walaupun dalam usaha pencapaian itu sendiri seringkali terdapat hambatan atau penundaan-penundaan yang tidak terhindarkan. Karena, pada dasarnya pemikiran strategis secara berkesinambungan, berhubungan dengan dan dikemudikan oleh pembentujan dan pembentukan kembali tujuan tersebut. Namun karena tetap berada di jalur yang tepat maka tujuan tersebut pada akhirnya tetap akan terwujud secara maksimal.

Teknik utama yang digunakan dalam aspek ini secara umum dapat diilustrasikan dengan penulisan cerita.

3. Berpikir di waktu yang benar

Strategi tidak sepenuhnya dikemudikan oleh masa depan namun oleh jarak atau kesenjangan antara realitas sekarang dan tujuan di masa depan. Seorang pemikir strategis dapat menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Pemikiran strategis adalah sebuah proses dinamis membaca sebuah pengetahuan atau kejadian di masa lalu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Teknik paling penting yang bisa diaplikasikan dalam aspek ini adalah pembangunan skenario, analisis kesenjangan, dan penggunaan sistematik analogis, seperti studi kasus.

4. Hypothesis-driven

Atribut ini menghubungkan pemikiran strategis dengan metode ilmiah. Menciptakan hipotesis kemudian mengujinya sangat diperlukan. Karenanya, kreativitas dibutuhkan dalam pemikiran strategis dalam menyulap data-data yang ada menjadi hipotesis. Dan sikap kreatif tersebut digunakan pula dalam menempatkan hipotesis tersebut sebagai sebuah subjek uji coba.

Atribut ini mencakup beberapa teknik seperti, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kemudian membedakan antara apa yang telah diketahui, apa yang belum diketahui dan apa yang diasumsikan yang diakhiri dengan mengajukan pertanyaan: pengetahuan baru apa yang akan mengubah perkiraan khusus.

5. Intelligent opportunism

Dalam prosesnya, selalu ada tempat kosong bagi hal - hal baru, bisa apa saja, yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan. Baik itu berupa kecerdasan lokal yang berasal dari siapapun dalam sebuah organisasi tersebut, maupun strategi lainnya yang telah ada atau strategi-strategi baru yang dapat menyumbang pemahaman - pemahaman baru.

Teknik-teknik yang relevan dalam atribut ini adalah proses membagi dan membandingkan, dan teknik-teknik simulasi lainnya.

D. Kesimpulan

“Creativity cannot be taught, but it can be learned.” (Kenichi Ohmae)

Setelah pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa berpikir strategis salah satu cara berpikir rasional yang secara maksimal mengeyampingkan emosionalitas, melankolis dan sentimental demi tercapai tujuan. Dengan berpikir strategis, kita dapat memilah hal-hal yang penting, agak penting dan tidak penting, atau secara singkatnya hanya mengambil hal-hal esensial yang sejalan dengan strategi dan misi awal yang sebelumnya telah disusun.

Berpikir strategis tidak harus melulu mengeluarkan ide baru namun juga dapat mengkombinasikan ide-ide lama yang jika diaplikasikan dapat menjawab permasalahan yang ada. Begitu pula dengan permasalahan yang besar dan rumit tidaklah harus selalu diimbangi dengan solusi ‘wah’ yang terkadang terkesan rumit dan membingungkan. Sebuah solusi sederhana pun sebenarnya mampu menjawab permasalahan tersebut. Tergantung pada apakah strategi yang dipilih tersebut memang sejalan dengan tujuan akhir yang ingin dicapai.

Pemikiran strategis tidaklah serumit yang dibayangkan. Pemikiran ini terkadang terbentuk dari penggunaan sebuah ide baru atau kombinasi baru dari ide - ide lama untuk menyelesaikan masalah yang besar. Secara umum, pemikiran strategis menciptakan cara berpikir baru yang kreatif untuk menghadapi masalah - masalah yang kompleks. Pemikiran strategis lebih bersifat proaktif ketimbang reaktif, lebih bersifat inovatif daripada imitatif dan sebuah pemikiran yang berpikir jauh kedepan dan selangkah lebih maju pada saat itu. Pemikiran strategis sengaja diciptakan untuk kondisi yang dinamis, dimana hal ini akan berguna dalam pengembangan substansial dan aplikasi tambahan.

Seorang pemikir yang strategis akan berpikir di luar pemikiran rutin orang kebanyakan. Pemikir strategis ini akan berpikir melewati cara berpikir pada umumnya dan berpikir di luar model ide-ide umum atau standar. Para pemikir ini dapat mencari relasi atas kejadian-kejadian tertentu dan mengambil tindakan sebelum orang lain dapat menyadarinya.



[1] E.H. Carr, The Twenty Years’ Crisis, in Robert Jackson & Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, p.54.

[2] Nurani Susilo, Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja warga Inggris (1): Pindah Pasar Swalayanmu, Bukan Gaya Hidupmu, Jawa Pos, 1 January 2009, p. 1.

[3] Ibid, p. 31.

[4] Henry Mintzberg, The Rise and Fall of Strategic Planning, 1994 in Eton Lawrence, Strategic Thinking: A Discussion Paper, Public Service Commission of Canada, April 27 1999, Canada, 1999, p. 3-4. http://www.csun.edu/bus302/Course/Materials/Cases/strategic.thinking.pdf (23 December 2008)

[5] Ralph Stacey, Managing the Unknowable, 1992, ibid.

[6] P. Raimond, Two Style of Foresight: Long Range Planning, 1996, ibid.

[7] Center for Applied Research, Briefing Notes: What is Strategic Thinking, Four Penn Center, Philadelphia, 2001, p.1. Available: http://www.cfar.com/Documents/strathink.pdf (25 December 2008)

[8] Kenichi Ohmae, Thinking and Acting Strategically, Introducing Strategic Management, Chapter 2. Available: http://www.palgrave.com/business/white/docs/White%20-%20PDF%20file%20-%20blue%20chapter%202.pdf (25 December 2008).

[9] Jeanne M. Liedtka, Strategic Thinking: Can it be taught? 1998 in Eton Lawrence, Strategic Thinking: A Discussion Paper, Public Service Commission of Canada, April 27 1999, Canada, 1999, p. 3-4. http://www.csun.edu/bus302/Course/Materials/Cases/strategic.thinking.pdf (2 January 2009)


Penerapan Strategi Militer dalam Persaingan Bisnis

By: Edo Septian Permadi

Abstract

Military strategy has undergone a dramatic transformation in recent years to business strategy. Every executive knows the daunting challenges of the 21st century business environment: disruptive change, fleeting opportunities, an overall sense of uncertainty and disorder. Although military commanders have long faced such challenges on the battlefield, meeting them has become more difficult in today's world of electronic weaponry, blurred battle lines, and amorphous enemies. Maneuver isn't designed to destroy an adversary. Rather, it's used to render an enemy unable to fight as an effective, coordinated whole. To apply military strategy to business we need both a fundamental understanding of both the strategy and business, and by that we mean practice.

Kata Kunci : Strategi militer, strategi bisnis, competitive advantages, transformasi.

Pendahuluan

Persaingan bisnis yang kian ketat membuat para pengambil keputusan dalam bisnis untuk mencari dan menggunakan strategi yang tepat demi meraih kesuksesan. Dalam situasi seperti ini, terdapat pebisnis yang berhasil mentransformasikan strategi militer untuk diaplikasikan dalam strategi bisnisnya. Telah banyak perusahaan-perusahaan kelas dunia yang menerapkan strategi militer dalam bisnisnya. Pola persaingan, situasi, dan tujuan yang hampir sama dengan militer ini membuat para ekonom, pebisnis, dan penstudi strategi bisnis untuk melakukan transformasi dan diterapkan dalam strategi bisnis.

Pebisnis, baik seorang manajer maupun pemilik perusahaan telah banyak mengaplikasikan strategi militer ke dalam sistem persaingan bisnis. Sekilas, hal ini sangat mustahil untuk dilakukan, banyak nilai dasar dan elemen-elemen yang berbeda pada aspek militer dan bisnis. Namun, kenyataannya pemikiran Sun Tzu dan Clausewitz menjadi terkemuka dan banyak diaplikasikan dalam dunia bisnis. Penjelasan transformasi strategi militer menuju bisnis pertama kali menjadi objek kajian studi di Harvard Business Study pada era 1970an. Salah satu teoritisinya adalah Michael Porter, yang dikenal dengan teori positioning-nya, yakni menerapkan nilai-nilai strategi militer ke dalam ranah bisnis. Beliau berhasil menguak adanya kesamaan yang terdapat pada strategi militer dan strategi militer yakni dalam filosofi manajemen, yang memuat nilai-nilai untuk membuat keputusan yang tepat dan meraih kemenangan dalam situasi persaingan.[1]

Dalam artikel ini penulis tidak menjelaskan secara rinci tentang cara-cara penerapan strategi militer menuju kesuksesan bisnis, akan tetapi memberikan pemahaman mengenai transformasi nilai dalam strategi militer yang telah banyak diterapkan dalam ranah bisnis. Rumusan masalahnya adalah bagaimana transformasi strategi militer menuju strategi bisnis. Landasan teori yang digunakan adalah penerapan pemikiran Sun Tzu dan Clausewitz serta teori positioning dari Michael Porter. Pemikiran itu sangat mendominasi pada transformasi ini, yakni tentang strategi mengalahkan musuh dalam perang. Untuk studi kasus, penulis akan membandingkan konsep strategi bisnis dengan strategi militer, yakni strategi bisnis Michael Porter dengan Sun Tzu dan strategi bisnis McD dengan Sun Tzu. Dalam setiap transformasi, tentunya terdapat nilai yang diubah. Seperti contohnya medan pertempuran, pola persaingan, instrumen yang digunakan, dan lain sebagainya. Hal inilah yang kemudian dijadikan indikator dari adanya transformasi strategi militer menuju strategi bisnis. Sebelum menjelaskan indikator tersebut, terdapat penjelasan singkat mengenai nilai-nilai yang terdapat dalam strategi militer maupun bisnis.

Strategi Militer

Strategi militer adalah susunan perencanaan untuk melancarkan sebuah peperangan, yang didalamnya termasuk penyusunan bala tentara, pelancaran operasi militer, dan siasat penipuan musuh, untuk meraih kemenangan demi kepentingan politik. Sementara taktik militer merupakan teknik dan perencanaan penyusunan unit-unit militer untuk mengalahkan lawan dalam pertempuran.[2]

Nilai yang tertinggi dalam strategi militer adalah menuju sebuah kemenangan. Kemenangan diraih dengan cara mengalahkan musuh. Dalam mengalahkan musuh harus mengetahui kekuatan dan kelemahan musuh. Sun Tzu telah mendorong munculnya kesadaran terhadap lingkungan eksternal maupun internal dalam mengalahkan lawan. Sun Tzu meyakinkan arti penting faktor fundamental dan dimensi yang akan dibandingkan untuk membangun suatu strategi yang kuat. Faktor fundamental tersebut adalah pengaruh moral, iklim, arena, kepemimpinan, dan doktrin. Sedangkan dimensi yang dimaksud adalah pengaruh moral sang penguasa, kemampuan sang jendral, keunggulan iklim dan lapangan, pelaksanaan hukum dan instruksi, jumlah kekuatan pasukan, pelatihan perwira dan prajurit, administrasi penghargaan dan hukuman.[3] Dari indikator ini jika ditransformasikan dalam dunia bisnis adalah management, manpower, machines, money, materials, methods, dan markets.

Sedangkan ahli strategi militer seperti Clausewitz mencermati bahwa terdapat pola yang relatif saklek pada diri militer di hampir semua negara, yaitu terdiri dari prajurit yang tidak termotivasi dan dipimpin oleh aristokrat. Dalam berperang mereka menggunakan kerangka kerja (framework) yang relatif sama dan taktik yang serupa pula. Oleh karenanya perbedaan antara kalah atau menang dalam suatu peperangan menjadi relatif kecil. Napoleon telah mengubah semua konsep tersebut dan menjadikan kemenangan bukan semata pada kekuatan militer, tetapi juga kekuatan intelektual. Menurut Clausewitz, dalam memastikan keberhasilan suatu strategi adalah sangat penting untuk memadukan keseluruhan organisasi dalam suatu rantai komando formal (formal chain of command) sehingga setiap perintah dapat dilaksanakan tanpa pertanyaan. Menurut Clausewitz, suatu strategi bergantung pada beberapa elemen dasar yang digunakan dalam menyerang, bertahan, dan melakukan manuver. Kombinasi atas elemen-elemen tersebut dibatasi oleh usia, teknologi dan organisasi.[4] Di dalam dunia bisnis ini berarti penggunaan keunggulan jumlah produksi, teknologi, dan sumber daya yang ada untuk meraih keuntungan.

Strategi Bisnis

Konsep dasar strategi bisnis berasal dari strategi militer untuk memenangkan perang. Dalam bisnis tujuan adalah untuk memenangkan bisnis dari persaingan, merebut pasar dan meningkatkan pertumbuhan. Jika dalam kemiliteran menaklukkan musuh, mempertahankan posisi, memperluas teritori (daerah) sebagai misi utama, dalam bisnis yang dikejar adalah mengalahkan pesaing, mempertahankan dan memperluas pangsa pasar merupakan tujuan utama.

Pada masa awal, analogi antara bisnis dan militer memang sangat berdekatan, top management perusahaan dalam menyiapkan strategi bisnis berperilaku seperti perwira tinggi militer dalam menyiapkan strategi perang. Manajer bisnis mengadopsi tingkah laku perwira militer. Untuk mempertahankan pasar, perusahaan harus “berperang”. Jika untuk operasi militer umumnya dibentuk bagian atau divisi dengan fungsinya seperti divisi personil, divisi intelijen dan perencanaan operasi, divisi operasi, divisi logistik, maka dalam organisasi bisnis dikenal adanya departemen, bagian atau divisi SDM, R&D, produksi, keuangan, logistik dan lain-lain.

Dalam kemiliteran, prosedur operasi pada umumnya telah dibakukan (standardisasi). Dalam bisnis kita mengenal SOP (Standard Operating Procedures). Demikian pula, bahasa yang dipakai dalam strategi militer juga diadopsi dalam bisnis, seperti penggunaan terminologi strategi, misi, kampanye, sales force, perang harga dll.[5]

Dinamika Pengertian Strategi Bisnis

Munculnya strategi bisnis ini tidak lain adalah karena adanya taylorisme, yang memisahkan antara decision dengan execution.[6] Pengambilan keputusan dipisah antara pemilik modal (CEO, Owner) dan functional manager. Pemilik modal bertanggung jawab atas kinerja seluruh organisasi atau bagian organisasi yang mandiri, sedangkan functional manager bertanggung jawab atas fungsi tertentu dengan wewenang melaksanakan kegiatan tertentu. Hal ini berbeda dengan strategi militer yang lebih mengutamakan dominasi jenderal dalam pengambilan keputusan. Ini berarti bahwa dalam strategi bisnis efisiensi sangat dibutuhkan daripada prudensi. Strategi bisnis tidak dalam tataran hidup dan mati seperti strategi militer, namun lebih kepada kompetisi.

Pandangan dan analogi militer mulai ditinggalkan pada dekade 1950an, karena jika kita menjual produk sebanyak mungkin tidaklah sama dengan mengalahkan lawan. Jika perang ada pemenang tunggal, dalam persaingan bisnis yang dituju adalah mengungguli pesaing yang belum tentu kalah bersaing terhadap pesaing yang lain atau dalam bisnis lain, sehingga bisa terdapat pemenang ganda (win-win). Dekade 1960an ditandai dengan strategi sebagai rencana kerja yang rumit dan disusun berdasarkan prediksi yang rinci. Gejolak tahun 1960an dengan suksesnya perusahaan Jepang, krisis ekonomi karena kenaikan harga BBM dunia tahun 1970an mendorong berkembangnya teori menajemen strategik, yakni pembagian struktur kinerja tentang pengambilan keputusan dan fungsi tertentu.

Dekade 1980an muncul teori Competitive Strategy (Strategi Bersaing) Michael Porter, yang dikenal dengan Five Forces Model yang menjabarkan 5 elemen yang harus dicermati dalam melakukan analisis industri, yaitu: potensi pemain baru, pemasok, pembeli, substitut (pengganti), dan kompetitor dalam industri (biasanya segmen, pasar sasaran, dan positioning yang sama).[7] Dekade 1990an konsep Michael Porter mulai mendapat kritik karena dianggap kurang operasional. Muncul Gary Hamel dan C.K. Prahalad yang menekankan bahwa strategi bisnis harus didasarkan pada sumberdaya dan lingkungan bisnis "nanti" atau yang diantisipasi, bukan "sekarang".[8]

Transformasi dari Strategi Militer

Pudarnya nilai-nilai yang diadopsi dari strategi militer dari dekade ke dekade selanjutnya bukan berarti strategi bisnis dewasa ini menghilangkan seluruh aspek strategi militer. Di dalam sebuah transformasi terdapat beberapa aspek utama yang tidak hilang, namun hanya berubah secara epistemologi saja. Aspek utama itulah yang menjadi indikator dan bukti bahwa strategi bisnis merupakan hasil transformasi dari strategi militer. Indikator tersebut menurut penulis antara lain : arena, pola persaingan, instrumen, aktor, dan tujuan.

Tabel 1.1

Indikator

Strategi Militer

Strategi Bisnis

Arena

Medan Pertempuran

Pasar

Pola Persaingan

Pada tataran hidup-mati

Kompetisi (mengungguli pesaing)

Instrumen

Prajurit, senjata, sumber daya alam.

Karyawan, produk dagang, teknologi produksi, sumber daya alam.

Aktor

Jenderal, aristocrat.

CEO, General Manager, Manager.

Tujuan

Victory, subduing to the enemy

Unggul dalam persaingan, memperluas pangsa pasar.

Secara epistemologi, terdapat perbedaan yang mendasar antara strategi militer dengan strategi bisnis. Pada strategi militer medan pertempuran menjadi arena, sedangkan strategi bisnis pada pasar. Pola persaingan pada strategi militer berada pada tataran hidup dan mati sehingga prudensi menjadi yang utama, sedangkan strategi bisnis bersifat kompetisi bukan pertarungan yakni mengejar cara ber-efisiensi dan membuat biaya produksi seminimal mungkin.

Decision dan execution pada strategi militer dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan tertinggi, sedangkan pada strategi bisnis terpisah dilakukan pemilik modal dan manajer fungsional, ini terkait dengan efisiensi tersebut. Namun, adanya pergeseran secara epistemologis tidak berarti menghilangkan indikator yang ada. Hal inilah yang disebut dengan transformasi strategi militer menuju strategi bisnis. Aspek utama masih tetap dipakai dan hanya digeser secara epistemologis untuk dapat diaplikasikan dalam ranah bisnis.

Transformasi strategi militer menuju strategi bisnis mulai menjadi objek kajian studi pada dekade 1980an melalui tokoh sentralnya, Michael Porter. Aliran ini disebut dengan teori positioning, yakni meyakini strategi perusahaan merupakan alat untuk mencapai keunggulan kompetitif (menghasilkan keuntungan di atas rata-rata) dalam persaingan industri yang sangat ketat seperti halnya pertarungan pada ranah militer.

Strategi Bisnis Michael Porter

Keunggulan strategi bisnis dari Porter adalah kemampuannya untuk mendominasi diskursus tentang manajemen strategik seperti taylorism, fordism, dll, sejak pertengahan 1970an dan mencapai puncaknya pada dekade 1980an. Porter yang memotori era ini mengintrodusir pemanfaatan pendekatan aliran desain untuk dijadikan analisis lingkungan. Ia berhasil memadukan pendekatan internal (resource-based view) dengan analisis eksternal dan menghasilkan model yang sangat terkenal, yakni competitive analysis, generic strategies, dan value chain.[9]

Competitive Analysis, menjelaskan iklim kompetisi perusahaan di tengah industrinya. Pemikiran Porter ini disebut juga sebagai Porter’s Five Forces yang menjabarkan 5 elemen yang harus dicermati dalam melakukan analisis industri, yaitu: potensi pemain baru, pemasok, pembeli, substitut (pengganti), dan kompetitor dalam industri (biasanya segmen, pasar sasaran, dan positioning yang sama).[10]

Generic Strategies, strategi generik yang diperkenalkan Porter terdiri atas kombinasi dari tiga kemungkinan strategi, yakni cost leadership, differentiation, dan focus. Strategi penekanan harga menitikberatkan pada upaya perusahaan untuk menekan ongkos produksi serendah mungkin sebagai basis persaingan. Sedangkan strategi diferensiasi menitikberatkan pada kemampuan perusahaan menghasilkan sesuatu yang unik dan berbeda dibanding kompetitornya. Sementara itu strategi fokus adalah pilihan perusahaan untuk melakukan spesialisasi pada suatu bidang tertentu sehingga pasar sasarannya relatif sempit.[11]

Value Chain, konsep ini dilandasi dengan pemikiran bahwa kemampuan perusahaan untuk meningkatkan posisi saingnya dipengaruhi oleh pemahamannya tentang proses yang terjadi dalam perusahaan itu sendiri (bandingkan dengan konsep Sun Tzu). Model ini mendiagnosa keunggulan kompetitif suatu perusahaan berdasarkan efisiensi dan efektivitas setiap tahapan proses rantai nilai yang dilaluinya. Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa setiap langkah yang diambil pada suatu segmen proses tertentu akan berdampak pada keseluruhan proses yang terjadi pada perusahaan. Oleh karenanya terdapat kondisi interdependensi saling bergantungan. Terdapat lima kelompok aktivitas utama, yakni inbound logistics, operations, outbound logistics, marketing & sales, dan service; dan terdapat empat aktivitas penunjang, yakni firm infrastructure, human resource management, technology development, dan procurement.[12]

Positioning Strategi Sun Tzu

Beberapa opini yang diutarakan oleh Michael Porter sekilas mirip dengan strategi yang pernah dijelaskan Sun Tzu. Jika disederhanakan, strategi yang dijelaskan Sun Tzu dalam buku The Art of War mengandung tiga prinsip dasar, yakni commitment, observation dan preparation.[13]

Commitment, perusahaan hendaknya tetap konsisten terhadap maksud dan tujuan perusahaan itu didirikan. Dalam ilmu manajemen modern, pegangan para eksekutif adalah Anggaran Dasar perusahaan, dimana maksud dan tujuan perusahaan dituangkan. Sun Tzu mengajarkan bahwa bila eksekutif berhasil membawa semua personil dalam organisasinya dalam komitmen pada sasaran yang sama, maka tidak ada satupun musuh dapat mengalahkannya.

Observation, Sun Tzu mengajarkan bahwa organisasi haruslah menumbuhkan kebiasaan untuk selalu melakukan pengamatan atas tindakan lawan maupun situasi, sekalipun kita tidak dalam posisi terancam. Pengamatan yang tajam atas akan menghasilkan informasi mengenai situasi yang terjadi. Sebaliknya, kita harus mampu mengaburkan pengamatan lawan atas kita. Menurut Sun Tzu setiap gerakan besar lawan, hampir selalu ditandai dengan gerakan kecil terlebih dahulu, sehingga pengamatan yang terus menerus membuat kita waspada atas setiap tanda perubahan dari lawan.

Preparation adalah strategi ketiga dari ajaran seni perang Sun Tzu. Persiapan adalah landasan yang sangat penting untuk memanfaatkan action pada saat kesempatan datang. Pemimpin tidak akan mampu untuk melakukan tindakan guna memanfaatkan kesempatan yang muncul, bila dia tidak siap. Siap dalam arti mencakup struktur organisasinya, penyederhanaan prosesnya, penempatan sumber dayanya, kelenturan organisasi dan pelatihan personil organisasi. Pada hakikatnya, pelatihan adalah persiapan untuk menyambut kesempatan yang akan muncul.

Studi Komparasi : Strategi Bisnis McD dengan Strategi Militer Sun Tzu

Untuk lebih memeperjelas adanya transformasi dari nilai-nilai yang ada pada strategi militer menuju strategi bisnis, maka penulis akan memberikan pemaparan tentang strategi bisnis salah satu perusahaan besar dunia dan mengkaitkannya dengan strategi militer. Berikut adalah strategi bisnis McD yang penulis kutip dari Majalah Marketing, Edisi 2 tahun 2008:

Merek McDonald’s tidak bisa lepas dari nama Ray Kroc, tokoh yang punya mental kuat dan strategi jitu. Dia bukan hanya terkenal sebagai raja burger, tetapi juga pebisnis real estate yang sukses. Seperti pebisnis Amerika lainnya, Kroc bukanlah seorang pencipta. Pasalnya, makanan fast food itu sudah ada sejak lama serta tersedia dalam berbagai bentuk dan rasa. Tetapi, ia punya kemampuan untuk mencerna suatu konsep pemasaran, lalu mengaplikasikan dengan cara yang jitu.

Ia adalah pebisnis pertama yang mampu menerapkan prinsip-prinsip produksi massal dalam industri jasa. Meski tidak tamat sekolah, Kroc piawai menciptakan merek yang abadi, McDonald’s. Merek ini juga bisa menjadi pelajaran bagi banyak perusahaan tentang bagaimana mengelola bisnis dan mengembangkan merek.

Awal 1940-an, Kroc menjadi distributor eksklusif untuk produk mixer. Pelanggan terbaiknya adalah McDonald bersaudara, Richard dan Maurice, yang membeli 8 mixer untuk restoran mereka. Dua bersaudara ini membangun restoran McDonald’s dengan logo "garis lengkung keemasan" yang terkenal itu dirancang oleh Richard McDonald.

Dari sinilah kisah ini berkembang. Sewaktu berkeliling dunia, Kroc sadar bahwa salah satu bisnis yang berpeluang besar untuk berkembang adalah restoran yang berbasis di California dan dimiliki oleh McDonald bersaudara tersebut. Ia juga tahu bahwa mereka menggunakan sistem lini produksi massal untuk membuat hamburger dan sandwich.

Namun, sang pemilik tidak tertarik untuk mengembangkan bisnis lebih jauh. Mereka sudah puas dengan performance saat itu. Ray Kroc yang berjiwa bisnis rupanya pantang menyerah. Ia lalu membujuk kedua bersaudara tersebut untuk menjadikannya agen eksklusif mereka. Pada tahun 1954, Kroc membuka restoran McDonald’s-nya sendiri di Des Plaines, Illinois. Langkah ini merupakan awal dari revolusi bisnis restoran fast food di dunia.

Kroc berhasil meyakinkan dua bersaudara untuk menjual perusahaan tersebut padanya. Harga yang harus dibayar Kroc adalah 2,7 juta dolar. Pembelian itu adalah hasil dari keahlian berdagangnya selama ini. Setelah mengelola McDonald’s, Kroc paham betul bahwa hasil keuntungan terbesar ternyata berasal dari daerah tempat waralaba itu didirikan. Karena itu, tahun 1956, ia mendirikan Franchise Realty Corporation, di mana ia membeli tanah lalu menyewakannya kepada orang lain.

Pada akhir 1961, Kroc telah mampu merekrut banyak franchisee. Keuntungan yang didapat perusahaan dari para franchisee ini mempermudah Kroc untuk menaikkan modalnya di pasar. Ia juga menggunakan sebagian uangnya untuk menggelar kampanye iklan yang berfokus pada maskot perusahaan yang sangat digemari anak-anak hingga saat ini, yakni Ronald McDonald.

Sebanyak 1 miliar hamburger berhasil dijual sampai tahun 1963. Dengan cerdik ia memajang angka itu pada billboard di setiap restorannya. Pada tahun yang sama ia membangun outlet McDonald’s yang ke-500, dan dimulailah pula debut si badut Ronald McDonald itu. Ronald langsung terkenal di kalangan anak-anak. Mereka jadi sangat kritis dalam menentukan tempat makan bersama keluarga. Menurut John Mariani dalam America Eats Out, berkat ditayangkan dalam iklan TV selama enam tahun, badut Ronald McDonald dikenal oleh 96% anak-anak Amerika pada tahun 1965. Lucunya, angka ini melebihi ketenaran presiden AS.

Dalam mengembangkan usahanya, Kroc tidak pernah berkompromi terhadap kualitas. Ia sangat ketat menjaga kualitas hamburger, pelayanan, kebersihan dan manfaat yang diberikan pada pelanggan. Kualitas yang diberikan selalu nomor satu dan konsisten di tiap outletnya. Konsistensi dalam mutu ini membangun kepercayaan pasar terhadap semua makanan dan pelayanan yang disajikan oleh waralaba kelas dunia ini.

Ia juga ingin makanan bisa disajikan dalam waktu singkat, namun tetap berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, para manajer waralaba McDonald’s wajib mengikuti pendidikan di Hamburger University yang didirikannya di Illinois; dan akan menerima gelar BA di bidang “hamburgerology”. Begitu pasar domestik sudah berhasil digarap, Kroc mengalihkan perhatiannya ke luar negeri. Sejak 1967 McDonald memperluas operasinya ke negara-negara di luar AS. Pada tahun 1994, perusahaan tersebut telah memiliki 23.000 restoran McDonald’s di 110 negara dan menghasilkan 34 miliar dolar per tahun. Uniknya, Kroc berprinsip untuk menghormati masyarakat dan budaya tempat outletnya didirikan. Supaya rantai bisnisnya lebih mudah untuk diucapkan oleh konsumen di Jepang, ia bahkan mengganti mereknya menjadi Makudonaldo. Ia pun tidak menyediakan daging babi di India dan Timur Tengah. Sementara di Irlandia ia membuat promosi yang menyatakan, “Our name maybe American, but we’re all Irish.”

Di Indonesia, restoran waralaba ini mempekerjakan karyawan lokal dan memperkenalkan menu variasi yang diadaptasi dari makanan daerah, seperti bubur ayam, ayam goreng, dan sambal. Pembauran dengan budaya masyarakat setempat, menyebabkan McDonald’s mudah mendapat hati penduduk sekitar. Akibatnya, restoran pun cepat berkembang.

Suksesnya ekspansi McDonald’s ke pasar internasional, membuat perusahaan ini menjadi simbol dari globalisasi dan penyebaran gaya hidup Amerika. Kendati demikian, banyak debat dan opini publik mengenai isu obesitas dan diabetes yang dikaitkan dengan restoran siap saji ini. Kekayaannya (sekitar 500 juta dolar AS) ditaksir tidak berasal dari hamburger semata, tapi juga dari semua real estate sekaligus tanah di lokasi-lokasi strategis yang dimilikinya. Jumlah kekayaannya dalam bentuk properti dan tanah saja sudah sangat fenomenal. Jadi, cukup beralasan bila banyak pihak yang mengatakan bahwa Ray Kroc sebenarnya pengusaha real estate yang sukses dengan kedok restoran burger di depannya.[14]

Jika dibandingkan dengan strategi militer Sun Tzu, strategi bisnis McD juga memiliki persamaan seperti pemikiran Sun Tzu. Petuah Sun Tzu yang sangat terkenal adalah “Kenalilah musuhmu dan kenalilah dirimu, niscaya Anda akan berjaya dalam ratusan pertempuran.” Agar bisa tahu dan mengeksploitasi kelemahan lawan, butuh pemahaman mendalam tentang strategi, kapabilitas, pemikiran, dan hasrat para pemimpinnya seperti juga pengetahuan yang dalam atas kekuatan dan kelemahan diri kita sendiri. Kroc juga telah melakukan ini dengan mengetahui kelebihan restoran yang dimiliki oleh dua bersaudara tersebut, untuk itulah Kroc mengkomersialkannya dan membuka franchise ditempat strategis. Kroc juga mengenali perilaku konsumen yang berbeda di tiap-tiap negara, untuk itulah ia berhasil mengembangkan inovasi dengan membuat menu makanan lokal.

Kroc bisa disebut berhasil “memenangkan perang”. Untuk mencegah pesaingnya meniru produknya, Kroc telah mematenkan McD dan merahasiakan resep kualitas produknya. Saat ini co-marketing dan co-branding populer digunakan untuk menaikan marketing relationship, pelengkap produk dan pengalaman yang lain. Menurut Sun Tzu, membangun jaringan aliansi yang kuat merupakan cara untuk membendung gerakan aktratif lawan.

Kelemahan Teori Positioning dalam Mentransformasikan Strategi Militer

Michael Porter telah sukses men-diskursus tentang manajemen strategik dan melakukan positioning strategi militer untuk diterapkan pada bisnis. Beliau mengambil teori pada strategi militer seperti halnya Sun Tzu, Clausewitz, dll untuk diaplikasikan dalam dunia bisnis. Namun, masih terdapat kelemahan dalam teori positioning itu sendiri. Henry Mintzberg, yang juga alumni Harvard Business School, melihat kelemahan teori dari Porter. Mintzberg menilai dalam aliran positioning Porter, fokus strategi menjadi “sempit”. Aliran ini mengarahkan strategi pada solusi generik dan bukan pada perspektif yang unik. Nilai strategi sebagai seni dan kreatifitas yang unik cenderung diabaikan oleh Porter. Hal ini seringkali bermuara pada kegagalan mengembangkan kreativitas, terutama dalam menghadapi berbagai ketidakpastian dunia bisnis.[15]

Fokus aliran positioning terlalu sempit sehingga hanya menekankan pada persoalan ekonomi dan data kuantitatif dibanding persoalan sosial dan politik atau bahkan data ekonomi yang bersifat kualitatif. Konteks kajian yang dipersempit, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai matriks yang ada, aliran positioning mengalami beragam bias seperti tentang bisnis besar yang secara tradisional biasanya paling tidak efektif dalam bersaing. Juga bias tentang kondisi eksternal perusahaan, terutama tentang industri dan kompetisi, yang menjadi semakin tajam akibat kebijakan internal perusahaan. Pada prosesnya, aliran ini lebih banyak melibatkan perhitungan di belakang meja dan menjauhkan analis dari lapangan. Jelas proses seperti ini bisa menjadi tidak sehat karena kurang menghargai keterlibatan emosional dalam proses pengembangan strategi perusahaan.

Kesimpulan

Teori positioning dari Porter telah menjadi bukti adanya transformasi dari strategi militer menuju strategi bisnis. Cara yang dilakukan untuk mentransformasikan strategi militer menuju bisnis adalah mencari nilai utama dari strategi militer yang dijadikan indikator, seperti arena, pola persaingan, instrumen, aktor, dan tujuan, kemudian dirubah dan diaplikasikan ke dalam strategi bisnis. Hal serupa juga dilakukan Ray Kroc dalam memperluas pangsa pasar McD, walaupun tidak sepenuhnya ia menyadari hal itu.



[1]Penerapan nilai militer untuk bisnis oleh Michael Porter, dikutip dari www.harvardbusinessonline.com

[3] Ini merupakan salah satu pemikiran Sun Tzu yang paling dikenal yakni kenali musuhmu. www.suntzusaid.com

[4] Strategi perang Clausewitz yang tertuang dalam buku On War. www.clausewitz.com

[5] Prosedur operasi militer (SOP) standard operating procedures strategi militer diadopsi dalam bisnis. Dikutip dari thinkingproblemmanagement.blogspot.com

[6] Inti pemikiran Taylorism pernah disampaikan pada pertemuan Mata Kuliah Strategi dan Tata Kelola Strategi. ve-strategy-class.blogspot.com

[7] five force model Michael Porter, Harvard. www.harvardbusinessonline.com

[10] Isi adalah bagian dari buku karya Michael Porter Competitive Strategy: Techniques for analyzing industries and competitors, The Free Press, New York, NY, 1980. Diambil dari www.harvardbusinessonline.hbsp.harvard.ed

[12] oasis.lib.harvard.edu

[13] Rangkuman prinsip dasar dari Sun Tzu. www.sadhonohadi.com

[14] Strategi bisnis McD, resume dari majalah marketing. Mulyadi, Ivan., “Pengusaha Burger atau Real Estate”, Majalah Marketing, vol. 2, Jakarta, 2008.